Belum Usai, Episode Empat

“Halo sayang, lagi apa ni??”


Dengan nada yg relatif lemas Rudi menyapa  oleh  pujaan hatinya. Sudah beberapa hari  beliau nir menelpon Ine. Rudi hanya mengirimkan sms buat sekedar  mengabarkan kondisinya pada Manado . Hal ini lantaran kesibukannya pada  bekerja & syarat fisik yg lelah setelah kerja.


“Iya sayang, saya  lagi kerja ni. engkau  lagi apa?”


bunyi Ine datar pada telepon


“Aku lagi istirahat kerja, akhir – akhir ini pekerjaanku lagi poly. Maaf ya enggak telpon engkau  selama beberapa hari ini”


Rudi menjawab tanya Ine. hatinya  berbunga & semangat lagi waktu mendengar bunyi pacarnya.


“Iya ga apa – apa sayang, saya  mengerti menggunakan kesibukan mu bekerja. Ya telah engkau  makan dulu . Aku lagi sibuk nih.  enggak lezat   sama atasanku teleponan ketika jam kerja”


Suara ine mulai ketus ditelepon menciptakan Rudi heran sejadinya


“Ne.. kini   jam istirahat kan??. Kenapa engkau  mesti enggak lezat   sama atasan mu??”


nada bicara Rudi relatif tinggi & sedikit emosi


“Sayang..., saat kita itu selisih 1 jam antara Medan & Manado. Disini masih jam 11  & disana telah jam 12 siang . Aku mau kerja dulu . Nanti engkau  mampu telpon saya  lagi.”


ine pribadi menutup teleponnya. Dengan nada yg penuh kekesalan


“ne....”


Suara ine terputus. Sontak menciptakan Rudi sebagai kesal. Ia nir membayangkan akan sebagai misalnya ini. Ia fikir hari ini beliau bisa merampungkan perseteruan yg tengah dihadapi. Hubungan jeda jauh menciptakan hati & perasaan mereka sangat diuji. Jarak jua merubah Ine yg hangat sebagai dingin & tampak aneh dimata Rudi.


Lantaran hal ini jua, Kinerja Rudi menurun  pada bekerja & beliau pernah menerima teguran yg berfokus menurut atasannya. Lantaran pekerjaan nir terselesaikan & rudi sedang sibuk  menelepon Ine yg kondisinya ketika itu Ine sedang sakit.


“Rudi !! , Kamu mampu penekanan enggak pada bekerja. Jangan tak jarang nelpon terus diruangan kerja engkau . Kapan kerjaanmu mau terselesaikan !!!!”


Suara atasan rudi memenuhi ruangan kerjanya


“Maaf bu, pacar aku  sedang sakit. Jadi aku  tanya kondisinya misalnya apa”


Jawab Rudi menggunakan penuh ketakutan


“Inget ya, engkau  masih trainning disini. Jadi perbaiki kinerja mu kalo engkau  ingin lulus”


Atasan Rudi mengancamnya & meninggalkan ruangan kerja itu menggunakan muka yg merah & penuh amarah pada Rudi.


Pacaran jeda jauh membuatnya sebagai nir penekanan pada bekerja. Ini ditimbulkan pertengkaran mini   dalam ketika ditelepon, atau sms. Paling tak jarang merupakan dalam ketika ditelepon frekuwensi enggak terdapat (dimanado sangat tak jarang terjadi bila cuaca sedang buruk), & lainnya.


Sehabis pembicaraan menggunakan Ine, Rudi melamun & tiba pak Azis & berbincang menggunakan Rudi. Pak azis menaruh petuah  kepadanya.


“ Rud, engkau  wajib  bertenaga pada menjalani ini. Memang nir semanis dalam ketika engkau  pada Medan dulu. Tapi engkau  wajib  permanen penekanan dalam pekerjaan mu supaya engkau  mampu lulus  pada masa trainning ini”.


Pak Azis telah mendengarkan poly cerita menurut Rudi mengenai hubungannya yg sedang nir serasi menggunakan pacarnya. Ia nir mau melihat Rudi larut pada kegundahan  hati yg mampu mengakibatkan fatal pada pekerjaannya.


“Iya pak, terima kasih atas sarannya. Mungkin hal ini wajib  aku  bicarakan lebih lanjut lagi menggunakan pacar aku . aku  takut pekerjaan sia – sia lantaran perkara ini yg nir terselesaikan”


Hari – hari Rudi dilewati menggunakan rasa gelisah yg tidak menentu.  Ditambah hubungannya yg terus memburuk. Ia sangat takut kehilangan kekasih yg paling beliau sayangi. Tapi beliau jua takut kehilangan karir pada pekerjaannya. Ini misalnya makan butir si malakama fikirnya.


Rudi konfiden Ine sangat mengasihi dirinya. Dan hal ini niscaya bisa diselesaikan menggunakan pengertian satu sama lain. Rudi permanen setia pada menjalani kisah asrmanya. Tidak terpintas difikirannya buat lari menurut interaksi yg beliau bangun menggunakan ketulusan. Semoga ini hanya ujian mini   menurut apa yg tengah dihadapinya.


Rudi membatin pada hatinya


“Ne, kalo saja  engkau  memahami perasaan ku ketika ini, saya  kangen banget sama engkau . Aku sayang sama engkau .saya  ingin mencicipi jari – jemarimu yg halus. Mengelus rambutmu yg bergelombang & memelukmu erat. Menjadi tawamu disetiap engkau  gembira. Tapi ketika ini , Aku tidak mengerti mengapa selama saya  pada Manado poly sekali perkara mini   sebagai akbar  gara – gara jeda yg jauh ini. Aku mengerti frekuwensi ataupun pulsa nir bisa menggantikan kehadiranku disisimu. Tidak bisa menemani kesendirianmu. Tidak bisa menghangatkan hatimu saat dingin & membeku. Tapi saya  akan berusaha bertenaga & akan selalu tabah pada menghadapi ini. Demi dirimu & masa depan kita. Aku sayang sama engkau ”


Dan Rudi memohon pada oleh pencipta supaya menampakan jalan kepadanya. Agar seluruh ini sebagai baik adanya.


*****


Di Medan (Kamar Ine)


“Aku kesal sama engkau  Rud !!!!!!!”


Suara jeritan hati Ine yg dingin & murung  saat beliau melamun sepi dikamarnya menunggu warta menurut oleh raja dihatinya yaitu Rudi.


Rasa kangen yg akbar , ingin selalu disamping Rudi, kekesalan lantaran Rudi yg nir terdapat untuknya saat murung . Membuat Ine sebagai sangat kesal terhadap interaksi jeda jauh ini.


Jarak yg terpisah sang bahari. Dan hanya mampu disatukan menggunakan frekuwensi & pulsa telepon. Maklum saja, porto  bepergian menurut Medan ke Manado nisbi mahal. Dikala  kangen Ine Cuma bertemu menggunakan Rudi melalui telepon saja. Dan itu nir relatif menurutnya.


Pernah pada suatu saat Ine menelpon kekasihnya. Dikala rasa rindu pada hati meledak hebat ingin kangenan menggunakan kekasihnya itu.


“Halo sayang, saya  kangen engkau  ni. Kita ngobrol yuk”


Ine mengajak Rudi buat mengobrol menurut telepon


“ Sayang, ini kan jam 1 malam, besok aja ya. Aku ngantuk ni. Tadi poly kerjaan”


Suara Rudi yg berusaha  melawan rasa kantuknya & menjawab ine


“ya telah sayang. Nice dream ya. Love you”


“love u too”


Ine menutup teleponnya . Ia kesal sejadinya malam itu. Saat beliau kangen, Rudi nir terdapat untuknya, minimal menemaninya ngobrol sampai beliau tertidur.


Pikiran Ine menerawang jauh menghayalkan hal –hal yg dilakukan Rudi setiap hari. Ia mulai curiga terhadap pacarnya itu . Apalagi pada bulan ke 2, kekasihnya  sangat  sporadis sekali menaruh warta.Baik via telepon ataupun sms kepadanya.


Rasa cemburu yg dibalut rasa sayang yg amat akbar  menciptakan Ine sebagai sangat labil & posesif. Kadang Ine memarahi Rudi melalui telepon lantaran nir menaruh warta. Sms kekesalan jua sangat tak jarang dikirim Ine lantaran balasan sms menurut rudi nir terdapat.


Hal menciptakan Ine kecewa. Ia berfikir pekerjaan yg Rudi jalani menciptakan interaksi mereka retak & bahkan mampu sebagai sangat buruk . Tidak mungkin Rudi mengundurkan diri untuknya. Lantaran Ine memahami, Rudi sangat mengasihi pekerjaan yg sudah membesarkan prestise keluarganya.


Ine berfikir & meninmbang – nimbang pada hatinya buat segera merogoh keputusan terhadap hubungannya menggunakan Rudi.Ine menceritakan keresahan perasaannya pada fitri temannya. Agar beban dihatinya berkurang sedikit


“Fit, saya  sayang banget sama beliau, saya  ga mau kehilangan beliau. Tapi saya  ga mungkin terus kesal menggunakan jeda yg memisahkan kami berdua. Menurut mu bagaimana??”


Tanya Ine pada Fitri


“Ne, alangkah baiknya engkau  pertimbangkan dulu menggunakan persaanmu. Jangan hingga engkau  menyesal melapaskan beliau. Apalagi beliau bekerja disana. Kasian Ne.. kalo keputusanmu berakhir sebagai buruk”


Pernyataan yg Fitri sampaikan menciptakan hati Ine sebagai semakin bimbang. Hatinya terus bergolak menggunakan egonya sendiri.


Ine menerawang jauh ke langit – langit kamarnya. Berusaha mengingat – jangan lupa pulang kenangan yg mereka ciptakan ketika mereka beserta dulu pada Medan .


“Fit, kalo memang Rudi merupakan jodohku maka kami akan bertemu lagi. Aku ga mau terus tersiksa batin ini, saya  memang enggak mampu pacaran jeda jauh akan tetapi saya  mencobanya.  ternyata saya  enggak bisa kayak gini”


Tiba – datang menetes air mata Ine & perlahan jatuh pada ke 2 pipinya yg lembut. Hati Ine serasa tersayat – sayat lantaran nir bisa mencurahkan kerinduannya pada kekasihnya. Dengan pelukan Fitri, Ine sebagai sedikit lega. Lantaran sahabatnya nir meninggalkannya saat dirinya terjebak menggunakan romantika yg belum mempunyai akhir.


“Ne, yg bertenaga ya. Ini hanya bunga – bunga pacaran. Semua itu akan latif dalam saatnya. sinkron menggunakan ketentuan menurut oleh pencipta”


Fitri menaruh semangat pada Ine. Dengan asa beliau mampu melupakan sedikit kesedihannya. Dan bisa penekanan menggunakan kehidupannya sendiri.


Hari makin gelap. Hujan jua mulai turun. Mengingatkan ine pada janji Rudi.  janji akan pulang dipelukannya. Berjanji buat selalu setia selamanya .


“Hujan, saya  tidak mengerti menggunakan hatiku. Aku tidak mengerti menggunakan perasaanku. Aku ingin membuatkan kangen dengannya. Ingin terus bersamanya. Menggandeng tangannya. Menjadi pelepas rindu untuknya. Menjadi malaikat penjagaku. Menemaniku saat saya  ringkih ditengah samudera  kehidupan. Aku mohon padamu kekasihku, engkau  jangan hanya jadi anganku saja. Tapi saya  mohon engkau  hadir & menghangatkan hatiku yg telah dingin hampir mambeku ini. Rud, saya  rindu engkau . Aku mohon engkau  mengerti menggunakan keadaanku ini. yg tersiksa lantaran rindu pada mu”


Ucap Ine pada hatinya yg penuh menggunakan beban kerinduan pada Rudi kekasihnya yg paling dicintai


***


Kamar Rudi (Manado)


Siang yg terik, panas & Suara deru mesin.  Membangukan rudi yg tengah tertidur. Kebetulan tempat tinggal   kosnya dipinggir jalan kota. Badan Rudi misalnya remuk. Lantaran kemarin beliau habis membereskan gudang tempatnya bekerja. Malas sekali beliau ingin bangkit menurut tidurnya. Dan memang beliau jua sedang libur kerja. Ia menentukan istriahat pada kamarnya yg sempit & penuh menggunakan barang  - barang miliknya.


Cuaca diluar panas menyengat. Ini cocok buat mencuci sandang pikirnya. Dan sehabis mencuci dilanjut lagi menggunakan tidur. Apalagi hari ini Senin  , orang yg mencuci sandang niscaya sedikit nir misalnya pada hari Sabtu atau Minggu.


HP Rudi berdering, tampaknya terdapat panggilan masuk. Dilihatnya layar HP itu ternyata pacarnya menelepon.  Padahal umumnya jam segini Ine masih kerja. Kemudian beliau mendapat telepon tersebut.


“Halo sayang, kok nelpon jam segini? Emang engkau  enggak kerja ya”


Rudi menjawab telepon menurut Ine menggunakan lembut & mesra


“Rud, saya  mau kita putus”


Jawaban Ine membuatnya misalnya tersambar petir pada siang bolong. Memerah matanya & beliau bangkit menurut tidurnya.


“Apa sayang, engkau  minta putus??? Kamu jangan bercanda dong ?? Kamu ini kenapa sih”


Suara Rudi yg keras menciptakan Ine menangis.


“Rud, saya  sayang engkau . Tapi saya  enggak mampu  misalnya ini terus. Kamu enggak pernah terdapat ketika saya  butuh disini. Terus saya  enggak tahan menggunakan interaksi ini. Aku telah coba bertahan & menahannya Rud. Tapi permanen enggak mampu”


Terdengar isak tangis Ine pada telepon & itu menciptakan Rudi sebagai luluh & berusaha menenangkan tangisan Ine & emosinya.


“Ne, apa yg engkau  nikmati, sama misalnya yg saya  nikmati. Apa engkau  enggak memikirkan saya ?? ... Apa jangan – jangan terdapat orang ketiga??? Kamu tega menyakiti perasaanku Ne!!!! Tega engkau  Ne menciptakan saya  begini”


Rudi menutup matanya. sembari mendengarkan tangisan Ine yg semakin sebagai lantaran mendengar bunyi Rudi yg lirih & semakin pelan lantaran terbawa perasaan & kesedihannya.


Rudi merasa dikhianati sang kekasih yg selalu dibanggakannya, dipujanya setiap saat, dipercayainya melebihi apapun.


“Iya Rud, saya  telah punya pacar baru disini. Kamu nir perlu tau siapa beliau. Dan engkau  jangan temui saya  lagi. Aku ga ingin melihat engkau .”


Jawab ine menggunakan tangisan & sembari tersedak


“Ne... engkau  tega sama saya . Aku keliru menilaimu selama ine. Sejujurnya saya  nir terima akan hal ini . akan tetapi kalo memang itu keputusanmu  saya  nir mampu menolak lagi. Apalagi kau telah punya pacar baru yg selalu  mengisi kesunyian hatimu saat saya  tidak mampu mengisinya. Dan saya  harap beliau lebih baik menurut saya  & lebih mencintaimu daripada saya .”


Rudi hampir menangis. Mata nya telah berkaca – kaca. Kakinya lemas & menggunakan perlahan beliau telah tertidur pada lantai. Hatinya nir mampu mendapat keputusan Ine yg ingin putus. Tapi beliau jua mengerti nir mungkin menyakiti perasaan Ine terus lantaran kerinduan yg Rudi untuk.


“Maaf ya sayang. Aku benar  – benar  menyesal sudah menyakitimu. Tapi perasaan ini sudah sakit dampak rindu yg engkau  tanamkan pada hatiku. Mungkin inilah jalannya. Kamu merupakan pacar terbaik yg pernah saya  miliki. Cinta tulusmu akan selalu kuingat.”


Suara ine pelan mengatakannya pada rudi


“Ne, saya  harap engkau  senang  menggunakan keputusanmu itu. Aku wajib  mampu menerimanya walupun menggunakan sangat berat hati ini menerimanya. Sayang sekali ne, saya  begini buat masa depan kita. Tapi kini   saya  hanya menikmatinya menggunakan penuh kekecewaan.”


Mereka membisu sejenak. Sepertinya terdapat hubungan batin diantara mereka. Hati mereka sepeti saling berbicara. Seperti ingin memeluk satu sama lain.


“Ne, anggap aja saya  enggak pernah terdapat pada kehidupanmu. & hapus seluruh memori mengenai saya  pada fikiranmu. hapus seluruh kisah mengenai saya . Dan kebalikannya saya  jua. Aku akan menghapus seluruh kenangan latif beserta mu. janjimu kepadaku. Akan ku hapus seluruh. Anggap saja kita nir pernah bertemu & tidak saling kenal”


Perasaan Rudi misalnya tertusuk pedang yg amat tajam & teramat sakit sekali. Emosi mensugesti perkataan yg beliau ucapkan


“Kenapa wajib  begitu Rud, kita kan mampu jadi sahabat & permanen komunikasi walaupun telah nir pacaran lagi”


Ine mencoba Meyakinkan rudi supaya mereka permanen berkomunikasi walaupun telah nir pacaran lagi


“Sudahlah Ne, saya  ga mampu misalnya itu. Dan saya  ingin mengucapkan buat yg terakhir kalinya kepadamu. Aku sayang sama engkau ...”


Dan lalu Rudi menutup pembicaraan mereka menggunakan mematikan HP nya. Dan menggunakan dibalut rasa emosi beliau membuang HP yg digenggam ke lantai sampai berantakan

Postingan populer dari blog ini

Bu edi, istri pak RT

Mamaku Seorang Biduan

Mamaku Seorang Biduan (Edisi Kedua)