Belum Usai, Episode Lima

Hancur hati Rudi mendengar keputusan Ine yg nir fundamental lantaran wajib  mengakhiri interaksi yg sudah usang   beliau bangun atas dasar cinta & afeksi. Badan Rudi lemas. Ia tidak memahami lagi wajib  berbuat apa atas hal ini. Kesal ,murung , sakit & emosi tercampur sebagai satu. Pikirannya terus menerawang paras Ine yg jauh disana. Ia membayangkan ketika pada Medan bermesraan & bercanda beserta Ine. Pupus  telah asa yg sudah Rudi cita – cita kan. Pupus hanya pada saat beberapa menit. Rudi hanya mampu menutup muka nya menggunakan bantal . & larut pada kesedihan yg amat pada &  menyakitkan itu.


Cuaca yg panas berubah mendung & air menetes menurut langit membasahi tanah Manado. Langit  tampaknya menangisi akhir interaksi sepasang kekasih ini. langit hari itu bersedih melihat Rudi menyesali kisah romantis yg telah gagal lantaran jeda & saat yg membentang jauh.


***


Di Kantor Ine (Medan)


“Ne, kenapa engkau  menangis??”


Atasan Ine bertanya kepadanya


“Saya merasa bersalah terhadap pacar aku  bu, aku  menetapkan beliau hari ini”


Ine menjawabnya menggunakan tersedu – sedu. Dan mengusap air matanya menggunakan tisu


“loh, bukannya engkau  sayang sama beliau Ne??? Kenapa engkau  putuskan beliau??”


Tanya atasannya lebih pada


“Begini bu, aku  sayang sama beliau. Tapi aku  jua ga mampu pacaran jeda jauh. Apalagi beliau enggak mampu terus beserta menggunakan aku  disini. Lagian aku  tak jarang emosi gara – gara rasa rindu aku  yg terus memuncak.”


Ine menjawab menggunakan terbata – bata. Dan terus mengusap air matanya menggunakan tisu


“Ne, engkau  harusnya bertenaga pada menjalaninya. Apalagi beliau bekerja disana. Tapi memang benar, jeda itu terkadang sebagai penghalang yg amat akbar  untuk interaksi pacaran. Orang Yang telah menikah saja poly yg bermasalah gara – gara jeda. Tapi percayalah Ne, seluruh ini telah takdir menurut yg maha kuasa. Dan kita hanya bisa bersabar atas apa yg telah diberi”


Atasan Ine berusaha menguatkannya saat kesedihan melandanya.


“Terima kasih bu atas nasehatnya. Yang aku  ingin tanyakan apakah pilihan aku  sempurna buat menetapkan pacar aku ??”


Ine bertanya-tanya menggunakan keputusannya


“Ne, seluruh keputusan itu benar. Tidak terdapat yg keliru. Tergantung kita pada menyikapinya. Dan selama keputusan itu menurut diri engkau  & telah engkau  pikirkan matang – matang berdasarkan aku  nir keliru kok”


Jawaban atasannya menguatkan perasaannya yg tengah gaduh menggunakan pikirannya.


“Tapi bu, aku  masih kasihan terhadap keadaan pacar aku  atas peristiwa ini. Alangkah kejamnya aku  menghianati cinta yg sudah beliau beri untuk aku ”


“Sudahlah Ne, ini telah sebagai keputusanmu. resiko apapun engkau  wajib  terima menggunakan bijak. Apalagi keputusan ini engkau  yg untuk. Jadi jangan sebagai suatu ganjalan buatmu. Apalagi engkau  telah mempertimbangkannya. Sudah Ne. Kamu lanjut lagi bekerja. Banyak pekerjaan yg menunggumu. Dan kerjaanmu itu nir terselesaikan bila engkau  tangisi terus”


“Iya bu, terima kasih atas sarannya”


Pembicaraan ine menggunakan atasannya pada tempat kerja berakhir. Ine pulang lagi bertugas didepan komputernya. Sambil mengusap air matanya yg terus jatuh membasahi pipinya. Perasaan ine masih gaduh atas keputusannya yg sudah beliau untuk hari ini. Rasa bersalah, kecewa, murung , bimbang bercampur sebagai satu & membangun gelombang akbar  yg terus menghantam dadanya sampai sesak.  Sebenarnya beliau jua tidak ingin berpisah menggunakan Rudi. Tapi keputusan sudah dibuat.  getir sekali menurutnya. Ine jua membohongi Rudi menggunakan menyampaikan bahwa beliau sudah memliki pengganti kekasihnya itu. Seperti tamparan yg akbar  untuk ine yg sudah membohongi Rudi . Ia gundah alasan apa yg ingin disampaikan pada Rudi supaya masuk akal. Sungguh sangat menyedihkan hari ini untuk Ine.


Tiba – datang hujan turun menggunakan deras pada Medan. Ine melihat menurut ventilasi ruang kerjanya. Sepertinya langit bersedih buat Ine yg sedang kesakitan terhadap keputusan yg diambilnya. Keputusan yg amat berat. Kebohongan yg amat sangat keji. Sebenarnya Ine ingin menelpon pulang Rudi. Tetapi nomornya  nir bisa dihubungi. Entah apa penyebabnya. Perasaannya semakin nir karuan ketika itu & merasa amat sangat bersalah.


****


Setahun Kemudian (Medan)


“Rud, engkau  telah datang pada Medan ??”


Tanya mak   Rudi


“Sudah mah, Rudi telah pada jalan naik taksi”


Jawab Rudi. Yang tengah  mengabari ibunya lewat telepon


Rudi merogoh perlop selama 10 hari & menentukan buat pergi ke medan melihat ibunya. Sudah satu tahun beliau nir melihat kota medan yg penuh menggunakan cerita. Cerita yg romantis penuh kenangan ketika beserta Ine mantan kekasihnya. akan tetapi itu merupakan masa kemudian menurutnya.


Dalam bepergian,  Rudi mengenang pulang memori kisah asmaranya menggunakan Ine. sehabis putus  beliau nir pernah berkomunikasi menggunakan Ine. usang   sekali, terdapat rasa kangen terhadap ine. Apalagi supir taksi membawa Rudi melewati jalan yg dulu  dilalui ketika mereka masih pacaran. Rasa kangen itupun makin akbar . Dan Rudi berkeinginan buat tiba & menjenguk Ine walau hanya sebentar.


“ Pak, nanti lewat  jalan SM Raja ya . Saya ingin menemui sahabat disana”


Pinta Rudi pada supir taksi


“Baik mas. Nanti bilang saja berhentinya dimana”


Jawab supir taksi


Taksi berkecimpung menuju jalan SM Raja. Rudi memandang keadaan dikiri &  kanan jalan. Tak terdapat yg berubah. Hanya stagnasi yg bertambah. Terlintas pulang memorinya beserta Ine saat sedang menambal ban motor Rudi yg bocor. Jelas sekali ingatan itu. Sehingga Rudi nir tabah ingin segera bertemu menggunakan mantan terindahnya  buat mengucapkan istilah maaf sudah membuatnya kesal & labil pada interaksi yg berat selama pacaran dengannya.


“Pak, masuk gang itu ya, terus belok kanan . Rumahnya  gerbang rona putih & didepan tempat tinggal   yg terdapat pohon mangganya. Nanti bapak tunggu pada depan ya”


Rudi memberi perintah pada supir taksi sembari memilih arah


“baik mas,”Jawab supir taksi


Taksi berhenti sempurna didepan tempat tinggal   menggunakan gerbang rona putih & didepan tempat tinggal   yg terdapat pohon mangganya. Kebetulan tempat tinggal   yg misalnya itu Cuma terdapat satu pada gang itu. Dan tempat tinggal   itu merupakan tempat tinggal   Ine. Rudi keluar menurut taksi & menuju kearah tempat tinggal   itu. Dia pegang gerbang itu & terpintas memori beserta Ine.


Rudi melihat Rumah itu tampak berantakan & tampaknya kosong nir  berpenghuni.


“apakah ine telah pindah, kok sepi ya??”


Hatinya mengatakan penuh perindikasi tanya


lalu beliau masuk kedalam tempat tinggal   melalui gerbang putih yg telah lama   & penuh karat.


“selamat siang .. ne.. ini saya  Rudi”


Rudi memanggil ine  hingga beberapa kali. Hasilnya nir satu orang pun keluar ataupun menyahuti panggilannya.


Kemudian seseorang perempuan   mendatangi Rudi, tampaknya  tetangga Ine. Dan perempuan   itu berbicara pada Rudi


“Mas, mau ketemu siapa ya??”


Wanita itu nir mengenali Rudi yg notabene merupakan pacar ine yg tak jarang tiba ke tempat tinggal   itu beberapa tahun yg kemudian sewaktu dimedan


“Saya mau ketemu Ine , apakah beliau terdapat dirumah??”


Rudi bertanya pada perempuan   tersebut


“Oooo..., mau ketemu Ine toh. Mas, tempat tinggal   ini sudah usang   kosong kira – kira beberapa bulan yg kemudian. Keluargnya menjual tempat tinggal   ini. Dan Ine sekeluarga pindah ke Bandung.”


Mendengar jawaban perempuan   itu. Hatinya misalnya teriris pisau, sakit sekali. Rudi murung  sekali lantaran nir mampu mengucapkan istilah perpisahan untuknya.


Obrolan antara Rudi & tetangga Ine berakhir. Rudi pulang naik ke pada taksi menuju rumahnya. Rudi merasa bersalah terhadap Ine. lantaran beliau nir sepatutnya mengakhiri komunikasi menggunakan Ine begitu saja. Minimal mereka mampu berteman. Kenangan- kenangan yg Rudi lalui beserta Ine merupakan hal yg luar biasa pada hidupnya. Tiada ketika yg paling senang  kecuali ketika beserta menggunakan Ine.


Selama bepergian menuju tempat tinggal  , Rudi terus mengutak – atik HP miliknya berharap angka  HP Ine masih tersimpan. Tetapi kenyataannya angka  itu sudah hilang beserta masa kemudian yg latif itu.


“Ne, engkau  merupakan kekasih terbaikku. Walaupun kau sudah sebagai mantan. Kamu permanen mantan yg paling terbaik. Semoga kenanganmu bersamaku permanen bersemi. Biarlah masa kemudian ini sebagai pengingatku saat saya  rindu padamu. Semoga yang kuasa bisa mempertemukan kita pulang & mampu mengulang kebahagian itu lagi”


Sampai ketika ini Rudi masih mencari warta mengenai Ine. Ia ingin sekali mengucapkan istilah maaf pada orang yg sudah lapang dada memberinya cinta lapang dada & afeksi yg paripurna untuknya.


Medan merupakan akhir menurut romansa Rudi. Tetapi ini merupakan awal menurut pendewasaan diri baginya. Dari sini Rudi memahami bahwa jeda merupakan tantangan yg amat akbar  pengaruhnya terhadap penentu suatu interaksi. Makin jauh jeda, makin tidak sama saat makin sulit tantangan itu. Jarak & saat menciptakan derita akan tetapi jeda & saat jua yg membuatnya sukses & senang  menggunakan pekerjaannya. Pilihan yg teramat sulit & memang misalnya itu adanya. Tapi yg  Rudi pahami merupakan beliau sudah setia menjalani interaksi yg sudah usai itu. Sesulit apapaun permanen dijalani. Dan berharap seluruh kekecewaan pada hatinya hilang seiring saat & jeda yg membentang.


Tamat

Postingan populer dari blog ini

Bu edi, istri pak RT

Mamaku Seorang Biduan

Mamaku Seorang Biduan (Edisi Kedua)