Belum Usai, Episode Satu
“Kamu janji ya enggak akan tinggalkan saya ”
Tatapan Ine tajam ke Mata Rudi dibarengi menggunakan senyumnya yg penuh arti kesedihan.
“saya janji ke engkau saya akan selalu setia, permanen sayang & makin cinta ama engkau ” ucap rudi menggunakan penuh kelembutan & perasaan.
Ine merasa risi menggunakan kepergian Rudi buat dinas diluar kota. Sudah seminggu ini beliau nir mampu tidur lantaran Memikirkan Rudi yg akan pulang meninggalkannya buat beberapa tahun. Rasa – cita cita cita cita cita rasanya itu saat yg amat sangat usang untuk Ine. Lantaran beliau merasa bahwa Rudi akan usang tidak berada disamping orang yg dicintainya itu.
“Ine engkau makan ya”
Rudi menyuapkan nasi goreng selera Ine. Nasi goreng seafood yg biasa mereka makan saat mereka melepaskan saat beserta seiring melajunya saat.
“Nanti dulu Rud, saya ingin puas melihat senyum engkau ”
Ine melihat kekasinya menggunakan tatapan yg kosong, sayup & penuh pengharapan yg pada.
“ya telah saya makan duluan ya, soalnya saya lapar nih, menurut siang saya belum makan”
Rudi melahap nasi goreng yg terdapat dihadapannya. Lahap sekali tanpa melihat keramaian disekitarnya. Ia berfikir ini merupakan ketika – ketika terakhir makan nasi goreng kesukaannya. Bau jalan disekitar cafe nir dirasakannya lagi. Keramaian ditempat itu sama sekali dilupakan.
Tiba – datang tiba pengemen ke meja mereka, menyanyikan lagu kangen menurut yang kuasa 19. Tanpa basa – basi si pengamen pribadi bernyanyi
Kuterima suratmu
Dan ku baca & saya mengerti
Betapa merindunya
Dirimu akan hadirnya diriku
Didalam hari – hari mu
Bersama lagi....
Langsung Ine menyodorkan uang Rp dua.000 pada si pengamen & menggunakan cepat si pengamen mengambilnya lalu pulang melanjutkan tembangnya ke cafe yg lain.
Ine membatin pada hatinya
“Rud, misalnya lagu tersebut niscaya saya akan kangen sama engkau . Aku akan selalu rindu engkau . Apa saya bisa jalani ini tanpa engkau ?? Aku ringkih tanpa engkau disisiku. apa engkau memahami itu??”
“prank!!!!!!”
Rudi menjatuhkan gelas dimeja, & datang – datang Ine tersadar & bangun menurut khayalannya.
“ Pelan – pelan Rud, nanti kena baju engkau loh”
Tutur Ine sembari merapikan gelas yg jatuh
“ Iya, maaf telah kagetin engkau ”
Rudi memperhatikan baju nya yg terkena tumpahan air
“ Biar saya panggil pelayan untuk membersihkan mejanya”
Segera ine meminta pelayan buat membersihkan bekas tumpahan air yg terdapat pada meja rmereka. Dengan sigap si pelayan tiba buat membersihkan meja meraka menurut tumpahan air.
“Ne, dimakan nasinya, kalo dingin enggak lezat “
“Iya Rud, perutku kayaknya telah mulai terdapat demo nih”
Candaan Ine menciptakan Rudi tertawa mini . Tawa mini yg penuh makna berarti untuk Ine. Tawa yg akan selalu diingat hingga kapanpun. Ine makan menggunakan menggunakan penuh beban hati. Lantaran ini merupakan makan malam terakhir beserta Rudi. Makan secara perlahan, mengunyah menggunakan penuh kelembutan. Sambil melihat Rudi yg sibuk menjawab telepon menurut sahabat kerjanya mengenai ucapan sukses & perpisahan.
“Iya pak, besok pagi aku berangkat ke manado, jam 10 pagi take off. Saya nir memahami berapa usang pada manado, yg kentara aku trainning dulu selama tiga bulan”
Rudi membalas pembicaraan temannya menurut telepon.
“Oke pak, terima kasih atas bantuannya selama ini. Mohon doa & semoga kita terus komunikasi ya pak”
Rudi mengakhiri pembicaraan & pribadi meletakkan Hp miliknya pada meja.
“Siapa Rud, tampaknya beliau atasan engkau ya??”
Ine bertanya disela –sela mengunyah nasi goreng kesukaanya
“Oh, itu pak Hamdan. Dulu dia manager ku. Aku dekat sekali menggunakan beliau. telah misalnya keluarga”
Rudi menjawab mantap pada ine.
Ine merogoh juz alpukat yg tersebut telah terdapat dimeja. Dingin juz itu misalnya hatinya yg sedang tidak menentu atas takdir yg wajib beliau jalani. Aroma parfum Rudi pun menemani aroma juz alpukat yg spesial saat hati & pikirannya berkecamuk hebat. Pelan sekali Ine meminumnya, sambil melamunkan hal – hal yg latif ketika berdua menggunakan Rudi. Perlahan minuman itu memasuki tenggrokannya & tanpa disadari juz itu pun habis.
Rudi & Ine terlibat dialog yg menarik, dialog yg hanya hati mereka yg bisa mengartikan, dialog yg mungkin terakhir mereka lakukan, dimana mereka bisa menyentuh jari – jemari. Meremasnya sampai bertenaga. Menyentuhnya menggunakan lembut. Merasakan kehangatan telapak tangan masing - masing. Ingin Ine terus menggenggam lembut jari tangan Rudi. Tetapi jam pada tangan Ine menampakan pukul 10 malam & saatnya Ine buat pulang ke tempat tinggal . Ada rasa sesal Ine pada saat. mengapa ini begitu cepat. Apakah saat nir mampu berhenti.
“Rud, kita pergi yok, telah malam. enggak lezat sama mama ku ”
“Oke sayang “
Rudi pribadi berdiri & bergegas ke meja kasir buat membayar makan mereka
Kemudian mereka berdua berjalan kaki menuju tempat tinggal Ine yg tidak jauh menurut kafe loka favorit mereka selama pacaran. Jalanan yg relatif sepi menemani langkah mereka. Dengan dialog yg kalem menciptakan bepergian pulagn ke tempat tinggal Ine sebagai hangat
****
Di tempat tinggal Ine
Malam itu mereka duduk pada teras tempat tinggal Diteras loka biasa mereka duduk, bercanda & sebagai saksi pada romansa mereka . dua kursi pada teras itu sudah sebagai sahabat pada mengarungi kisah roman mereka yg penuh menggunakan rona senang & duka. Penuh kejutan, penuh haru & penuh pesona.
Aroma teras dalam malam itu sangat harum. Harumnya berasal bunga yg terdapat disekitar pekarangan tempat tinggal Ine. Tajam sekali wanginya, menciptakan hati Rudi sedikit berkecamuk. Suasana malam yg dingin tampaknya ingin menitikan air hujan perpisahan buat mereka menciptakan suasana haru sebagai terasa.
“Rud, saya enggak mampu pacaran jeda jauh. Tapi saya akan mencobanya”
Ine meyakinkan dirinya buat permanen bertenaga & tegar pada menghadapi perkara tesebut.
“Ne, niat ku hanya bekerja & berkarir pada perusahaan. Aku akan permanen setia walaupun pada keadaan jauh darimu”
Rudi menguatkan hati Ine yg memang ragu buat menjalani kisah asmara yg telah dijalani selama 1 tahun ini.