Belum Usai, Episode Tiga

Pagi Hari Di Rumah Rudi


“Rud, koper mu telah beres nak ?? Jangan hingga terdapat yg ketinggalan”


Ibu rudi memastikan pulang barang bawaan yg akan dibawa Rudi


“telah beres mah”


Suara Rudi mantap sembari membawa keluar koper & beberapa tas miliknya  yg akan segera dibawa.


“Rud, taksinya telah tiba. Ayo cepat bawa seluruh barang – barang mu ke bagasi taksi”


“iya mah”


Dengan sigap Rudi segera berkecimpung pulang menurut duduknya.


Rudi membawa 1 koper yg akbar  & 1 tas ransel biasa. Perlengkapan itu sudah beliau siapkan semenjak tiga hari yg kemudian.


“Rud, semoga kau sehat selalu disana, semoga sukses ya, ibadahnya jangan tinggal ya nak . ”


Ibunya menaruh doa & restu pada anak satu – satunya itu. Ibunya mencium kening Rudi menggunakan penuh rasa haru & bangga


“Iya mah. Rudi akan selalu jangan lupa petuah  yg mamah berikan. Dann mamah jaga kesehatan  ya, kalo terdapat apa – apa cepat hubungi Rudi”


“Iya, maaf ya nak , mamah ga mampu mengantarmu ke bandara lantaran terdapat pekerjaan yg wajib  diselesaikan hari ini”


“iya mah. Rudi pamit ya”


Rudi segera masuk ke pada taksi. Sebenarnya beliau ingin menangis didepan ibunya yg tinggal seseorang diri. Tetapi beliau masih mampu menahannya lantaran memalukan jika dipandang ibunya tercinta.


Langsung taksi melesat cepat menuju bandara. Pukul 08.00 WIB Rudi berangkat menurut tempat tinggal  . Ditengah bepergian Rudi  Melihat jalanan kota medan yg telah mulai ramai dijalan – jalan protokol membuatnya takut , jika beliau ketinggalan penerbangan


“Mas, mau kemana??”  tanya supir  taksi pada rudi


“ Ke manado pak, pindah tugas”  jawab rudi


“Enak ya mampu jalan – jalan gartis menurut perusahaan. Jadi apa mas disana”


Puji supir taksi & bertanya relatif pada


“Jadi manager pak. Tapi trainning dulu selama tiga bulan”


Rudi menyebutkan secara kentara


“Hebat ya mas. telah jadi bos” takjub supir taksi


Percakapan yg hangat itu mengalihkan pandangan Rudi akan kemudian lintas yg padat ketika itu. Mengalihkan perasaannya yg tengah resah lantaran meninggalkan kota loka bersemayam cinta pertamanya.


Pukul 08.45 WIB Rudi datang pada Bandara Polonia. Pintu masuk bandara polonia menyambut nya beserta menggunakan hangatnya surya  pagi. Aktifitas bandara yg ramai terasa sekali. Suara pesawat yg terbang & mendarat menciptakan hatinya semakin gaduh & makin berat meninggalkan kota yg beliau cintai itu.


Rudi turun menurut taksi. Dan supir taksi mengeluarkan koper milik Rudi menurut bagasi.


“ Ini saja ya mas??”


Supir taksi mengeluarkan 1 koper akbar  menurut bagasi


“ Iya pak” jawab Rudi


Kemudian Rudi membayar ongkos taksi sembari mengucapkan terima kasih sudah mengantarkannya ke bandara.


“Terima kasih pak, telah antar aku ”


“ Sama – sama mas, sukses ya pada perantauan”


Ucap supir taksi yg pribadi masuk ke pada taksi & meninggalkan bandara.


Bergegas Rudi masuk kedalam bandara buat melakuakn checkin penerbangan menggunakan  membawa barang – barangnya. Antrian yg panjang menciptakan beliau wajib  tabah. Tiba – datang ine menelpon  disela –sela antrian yg padat


“Rud, engkau  telah pada bandara ya??”


“Iya Ne. Bagaimana hari pertama engkau  bekerja ??”


“Baik Rud, engkau  hati – hati ya disana, semoga sehat selalu, & sukses pada pekerjaannya & satu lagi, engkau  wajib  makin sayang sama saya ”


“Iya sayang, terima kasih atas doanya. Aku akan selalu makin sayang & cinta sama engkau ”


Hati Rudi hening sekali mendengar bunyi spesial   Ine menurut telepon. Walaupun pada suasana yg ramai orang mengantri, akan tetapi Rudi merasa hanya beliau & Ine saja yg berada disitu. Mereka misalnya mempunyai saat. hanya mereka berdua pada ruang itu.


“Rud, saya  lanjut kerja lagi ya. Nanti kalo telah datang pada manado telpon saya  ya”


“Iya sayang, met tugas ya. Love you sayang”


“love you too”


”Tuuuuuutttttt.....”


Pembicaraan yg hangat itu sudah terselesaikan. Dan Rudi segera melakukan check in. Terfikir olehnya  kenangan – kenangan yg sudah mereka lakukan. Lamunan itu makin jauh & tidak terasa panggilan boarding telah beberapa kali. Dan Rudi berlari menuju ruang tunggu penerbangan.


Pukul 09.55 WIB pesawat yg membawa rudi ke manado tanggal landas. Rasa kangen semakin membesar. Ingin cita cita cita cita cita rasanya terus disamping Ine. Ingin cita cita cita cita cita rasanya tidak meninggalkannya & membawanya ke manado. & Ingin cita cita cita cita cita rasanya tidak meninggalkan ibunya jua. Tapi apa dikata tugas yg menciptakan Rudi terpisah buat beberapa ketika menggunakan orang yg beliau sayangi & cintai.


***


Di manado


Sudah beberapa bulan Rudi berada pada Manado. Kota yg mini   nan latif. Apalagi pemandangan ditempatnya bekerja merupakan bahari tanggal teluk Manado. Menyaksikan surya terbit & terbenam disana. Apalagi pemandangan ini  nir pernah beliau dapatkan saat pada medan.


Tetapi hal itu sangat berbanding terbalik menggunakan interaksi asmaranya terhadap Ine. Mereka lebih tak jarang bertengkar melalui telepon ataupun sms. Entah siapa yg memulai pertengkaran itu. Lantaran nir terdapat yg menganggap sebelumnya  mengapa ini tak jarang terjadi.


Menurut Rudi rasa curiga yg hiperbola yg Ine tunjukkan  awal menurut perselisihan makin akbar . Sebaliknya berdasarkan Ine Tidak terdapat warta menurut Rudi, sporadis telepon & sporadis sms awal menurut retaknya interaksi mereka . Alasan – alasan ini yg menciptakan interaksi yg sangat hangat sebagai dingin & beku


Rasa kangen yg akbar  pada Ine menciptakan Rudi melupakan  kesulitan interaksi yg mereka jalani. Di sudut kantin Rudi duduk & berusaha menghubungi kekasihnya.Ia merogoh HP menurut saku celananya.

Postingan populer dari blog ini

Bu edi, istri pak RT

Mamaku Seorang Biduan

Mamaku Seorang Biduan (Edisi Kedua)